About Me

header ads

Survei Indo Baromter Ahok Paling Berhasil Tangani Banjir, Ternyata Hanya Persepsi dan Inilah Fakta Sesungguhnya

Penanganan banjir di DKI Jakarta/Foto: Merdeka.com

Waraksemarang.com - Lembaga survei Indo Baromter melakukan survei terkait kinerja Anies, Ahok, dan Jokowi terkait penanganan banjir di DKI Jakarta. Menurut hasil sulveri Indo Barometer menunjukan, mayoritas responden menilai mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang paling berhasil menangani masalah banjir di Ibu Kota.

M Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer menyampaian persoalan banjir, paling banyak dianggap berhasil Ahok 40 persen, lalu Jokowi 25 persen, Pak Anies (Baswedan) 4 persen.

Melihat temuan survei tersebut menunjukan bahwa Ahok lebih berhasil menangani banjir Jakarta dibandingkan dengan Jokowi dan Anies Baswedan. Ahok lebih dapat mengatasi banjir dibanding Anies yaitu 40 persen dibanding 4 persen.

Menurut Tatak Ujiyati tim TGUPP DKI Jakarta, memang hasil survei ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat seringkali berbeda dengan fakta.
Antara fakta dan persepsi penanganan banjir Jakarta

“Faktanya, banjir 2020 lebih bisa dikendalikan dibanding jaman Ahok memerintah (2014 - 217). Lihat data banjir dari BPBD Jakarta terlampir. Waktunya sama, awal tahun. Jumlah RW tergenang pada jaman Ahok (2015) adalah 702 dibanding jaman Anies (2020) yang 390,” lanjutnya

“Sedangkan luas area tergenang 281 km2 jaman Ahok dibanding 156 km2 jaman Anies. Jumlah pengungsi jaman Ahok lebih besar yaitu 45.813 orang dibanding 36.445 orang pada jaman Anies. Waktu surut banjir juga lebih cepat pada jaman Anies yaitu 4 hari dibandingkan dengan 7 hari jaman Ahok, ucap Tatak

Adalah fakta bahwa banjir 2020 lebih bisa dikendalikan dibandingkan banjir pada tahun 2020. Padahal curah hujannya lebih lebat pada tahun 2020 dibanding tahun 2015, yaitu tertinggi 377 mm per hari vs 277 mm per hari.

Tatak Ujiyati menyampaikan ini hal menarik, mengapa fakta tidak sama dengan persepsi publik bukan? Saya bertahun-tahun bergelut di survei kuantitatif jadi tahu apa kira-kira sebabnya.

Sebab pertama, pengetahuan responden tak mencukupi untuk menjawab pertanyaan survei. Sehingga jawaban cenderung ngawur. Dalam kasus survei Indobarometer kemungkinan besar ini terjadi. Jika pertanyaan diajukan tentang banjir Jakarta, sementara responden bukan hanya warga Jakarta. Responden adalah skala nasional yang tak cukup pengetahuan apalagi pengalaman tentang bagaimana pemerintah provinsi menangani banjir Jakarta dari tahun ke tahun.

Kedua, sampling error terlalu besar. Jika poin pertama dihindari dan pertanyaan tentang banjir Jakarta tersebut diajukan hanya kepada warga Jakarta. Dengan jumlah sampel hanya 1.200 responden untuk nasional maka Jakarta kemungkinan hanya mendapatkan 35 responden. Jumlah responden yang hanya 35 orang bahkan tak memenuhi standar terbawah untuk menyimpulkan hasil sebuah survei.

Ketiga, soal kredibilitas lembaga. Apakah nilai-nilai subyektif seperti afiliasi politik dan sumber pendanaan mempengaruhi hasil survei. Hal ini bisa dicek melalui track record-nya, apakah selama ini hasil-hasil survey yang dilakukannya selalu tepat atau pernah meleset.

Jika kesalahan poin 2 dan 3 tidak terjadi, tetapi kesalahan poin 1 tetaplah fatal. Menanyakan kepada responden tentang hal yang tidak mereka mengerti. Sehingga dalam membaca hasil survei ini kita juga tak bisa melihatnya merepresentasikan fakta, tentang kinerja Anies vs Ahok, tapi semata merepresentasikan persepsi publik. Yang sangat subyektif.

Walau demikian, survei ini tetap memberi manfaat. Memberi tahu kepada kita bahwa masyarakat Indonesia ternyata belum tahu bahwa Anies telah bekerja dengan baik. Masih ada masalah dalam komunikasi publik. Fakta tak tersampaikan kepada publik. Barangkali karena media rakyat seperti televisi, yang bisa menjangkau sampai wilayah terpencil, masih lebih banyak memberitakan hal-hal negatif tentang Jakarta. Banjirnya diberitakan luas tetapi tidak dengan upaya mitigasinya.

"Demikianlah kenyataannya, informasi lebih kuat berperan membentuk persepsi daripada fakta," tutup Tatak. (Red)



Video pilihan: