About Me

header ads

Ibu Uun, Dari Meditasi Cocot Hingga Tendensi Kelana Siwi Menerbitkan Hujan Malam Malam

Cinta Logika mendampingi Ibu Uun dalam Peluncuran buku puisi
Hujan Malam Malam karya Tin KS

Waraksemarang.com – Buku kumpulan puisi berjudul Hujan Malam Malam (untaian puisi-puisi tien ks) karya Tien KS, pemilik nama lengkap Tien Kartinah Sri Samodraningsih atau biasa disapa Ibu Uun diberi pengantar Edhie Prayitno Ige dengan judul Meditasi Cocot untuk Bu Uun. Penyuka anggrek gratisan dan bapak satu anak ini sebelumnya memohon maaf, karena menggunakan kata cocot. Kata cocot memang sangat kasar sekali, namun Edhie menyampaikan bahwa ini adalah cocotnya sendiri yang memang suka ngawur menilai seseorang.

Edhie Prayitno Ige mengatakan 75 puisi ini dibuka dengan nasionalisme yang sangat personal meski sangat klise dalam pemilihan diksi, namun justru dengan diksi sederhana, puisi ini menjadi berdarah dan berdaging.

“Bahkan bernyawa,” imbuhnya.

Bertempat di Sanggar Batik Semarang 16 pada hari sabtu, 1 Februari 2020 buku Hujan Malam Malam karya Tien KS diluncurkan. Dihadiri berbagai kalangan tidak hanya para penyair, sastrawan, bahkan guru, pemusik, kartunis, hingga penjual sepatu rajutan. Apresiasi atas karya Bu Uun ini tidak hanya datang dari Kota Semarang sendiri, dihadiri juga dari luar kota Semarang sebut saja Ness Kartamihardja dan Cirassu Cecep dari Jakarta, Alfiah Ariswati dari Karanganyar, Denting Kemuning dari Surabaya, Odi Sholahuddin dari Solo, Any Faiqoh, Narti Rikha, dan Indri Yuswandari dari Kendal.

Penerbitan buku puisi ini diterbitkan oleh Kelana Siwi secara gratis melalui penerbit Akademi Semarang. Tentu banyak kalangan yang mempertanyakan, pasti ada tendensi dari seorang Kelana Siwi. Tuduhan atas tendensi maupun kepentingan langsung dijawab Kelana Siwi secara tegas.

“Ya. Kalau kesenian tanpa tendensi itu sama saja ngarang, kesenian itu mesti punya tendensi,” ucapnya

“Tendensi saya menerbitkan buku ini khususnya untuk menghidupkan Akademi Semarang. Ketika berbicara Akademi Semarang tentu tidak terlepas dari nama Djawahir Muhammad. Djawahir Muhammad mengatakan kepada saya jika Akademi Semarang berjalan bisa menempati Sanggar Batik.”

“Saya tidak tahu dan ternyata Sanggar Batik Semarang 16 ini di sini yang dipimpin oleh Edhie Prayitno Ige. Maka tercetus keinginan untuk melaunching bukunya Ibu Uun di Batik Semarang 16,” tutur Kelana.
 
Denting Kemuning dari Surabaya membacakan puisi buku Hujan Malam Malam

Apresiasi buku kumpulan puisi Hujan Malam Malam tidak hanya berbentuk ucapan selamat atas terbitnya buku Bu Uun. Akan tetapi juga dengan pembacaan puisi, geguritan, musik, dan bahkan kisah pengalaman pribadi berkait dengan indahnya Hujan Malam Malam.

Sebagaimana Suryo Handono dari Balai Bahasa Jawa Tengah (BBJT) bercerita bawah dirinya punya pengalaman indah namun berakhir pahit. Dulu saat masih muda saat hujan malam malam, ia sedang mengantar seorang gadis cantik pulang ke rumah gadis cantik tersebut. Sesampainya di rumah gadis cantik tersebut, bukannya mendapatkan secangkir teh hangat malahan terusir oleh orang tua dari gadis tersebut.

Heru Mugiarso Penyair dan Dosen Universitas Negeri Semarang menyampaikan saya merasa hormat sekaligus mengucapkan selamat, yang sudah usia sepuh masih tetap berkarya.

“Karena yang pertama saya belum tentu sampai seusia Ibu Uun. Kedua, kalaupun nanti bisa sampai usia seperti Ibu Uun belum tentu saya masih bisa terus menulis puisi,” tutur Heru.

Ibu Uun atau Tien Kartinah Sri Samodraningsih merupakan perempuan tangguh kelahiran Semarang, 23 November 1944. Ia telah melahirkan beberapa karya seperti Melati Bersemi di Manaraja, sebuah novel bergenre remaja Anggrek Ungu Taman Hatiku. Selain menulis puisi ia juga menulis dongeng anak, Kancil-Dongeng Sebelum Tidur dan Matahari Bersinar Kembali. Sedangkan untuk kumpulan puisi bersama Sulis Bambang diberi judul Melati Senja. Pada akhir tahun 2019 di rumahnya ia juga meluncurkan buku kumpulan Puisi Komandan yang ditulis ramai-ramai bersama Nani Tandjung dkk.

Acara peluncuran buku puisi Hujan Malam Malam karya Tien KS dipandu oleh Cinta Logika yang memiliki nama asli Isnur dan dibantu oleh sang inspirator acara kegiatan Slamet Unggul. (Red)



Video selengkapnya: