About Me

header ads

Defisit Selama 8 Tahun Beruntun, Pemerintah Butuh Investasi Tapi Imbal Jasa Terus Membesar

Oleh: Awalil Rizky
(Chief Economist Institut Harkat Negeri)


Waraksemarang.com - Bank Indonesia melaporkan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2019 mencatat surplus sebesar US$4,68 miliar, sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia. Transaksi Berjalan yang defisit sebesar US$30,42 miliar dianggap terkendali, karena masih di kisaran 2,72% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai suatu negara, Indonesia mencatat keluar masuknya uang atau valuta asing dalam NPI, yang dipublikasikan untuk kondisi triwulanan dan tahunan. Keluar masuk valuta asing karena transaksi yang bersifat jual beli barang dan jasa dicatat dalam bagian NPI, yang disebut Transaksi Berjalan (Current Account). Dibedakan dari transaksi yang bersifat utang piutang dan investasi, yang dicatat dalam Transaksi Finansial (Financial Account).


Ekspor barang dicatat sebagai penerimaan dan impornya sebagai pembayaran dalam Transaksi Berjalan.


Meski diperlakukan serupa, karena cakupannya luas dan memiliki karakteristik berlainan, maka transaksi jasa dicatat dalam tiga kelompok.

Salah satunya mengenai balas jasa atas penggunaan faktor modal dan finansial, yang dicatat dalam neraca Pendapatan Primer (Primary Income).

Contoh transaksi pendapatan primer yang berupa pembayaran (outflow) adalah: keuntungan dari investasi langsung asing, pembayaran bunga surat utang pemerintah, dan pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Nilai pembayaran keseluruhan cenderung meningkat, dan mencapai US$41,15 miliar pada tahun 2019.

Pada saat bersamaan, warga Indonesia yang melakukan investasi di luar negeri memperoleh balas jasa yang dicatat sebagai penerimaan (inflow). Keseluruhan penerimaan pada tahun 2019 sebesar US$7,37 miliar. Nilainya berfluktuasi dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, Pendapatan Primer tahun 2019 mengalami defisit sebesar US$33,77 miliar pada tahun 2019. Selama ini memang selalu defisit dengan nilai yang cenderung meningkat. Penyebabnya adalah karena Indonesia lebih banyak memakai faktor produksi asing, terutama modal,  dibanding sebaliknya.

Defisit Pendapatan Primer yang makin besar memberi tekanan pada Transaksi Berjalan. Di masa lalu, defisitnya dikompensasi oleh surplus dari transaksi barang yang masih cukup besar. Saat ini, surplus dari transaksi barang hanya kecil, bahkan sempat mengalami defisit pada tahun 2018.

Tampak bahwa wacana publik tentang defisit transaksi berjalan kurang mengedepankan soal neraca pendapatan ini. Padahal merupakan penyebab terbesarnya. Defisitnya harus lebih terkendali.

Upaya pengendalian itu akan menghadapi tantangan dari fakta bahwa perekonomian Indonesia selama ini memang menerima arus masuk modal dari luar secara terus menerus. Ada investasi langsung (Direct Investment), berupa: pembangunan pabrik baru, usaha baru, penambahan kapasitas produksi, dan pembelian saham untuk ikut mengelola. Ada investasi portofolio (Portfolio Investment), seperti: pembelian surat utang negara dan korporasi. Ada transaksi keuangan lainnya, seperti penempatan dana di perbankan nasional.

Otoritas ekonomi bahkan sering membanggakan pertumbuhan nilai masuknya modal asing sebagai indikasi kredibelnya perekonomian nasional. Kita pun dapat menalar bahwa tidak mungkin pihak lain mau berinvestasi atau memberi utang jika tak yakin akan adanya hasil kembalian berupa keuntungan dan pembayaran bunga utang.

Dalam konteks perekonomian Indonesia belakangan ini, arus masuk modal asing yang dicatat dalam Transaksi Finansial memang makin penting untuk memperbaiki kondisi Neraca Pembayaran. Penyebabnya adalah Transaksi Berjalan yang sejak tahun 2012 selalu mengalami defisit dan bersifat mengurangi cadangan devisa yang dimiliki Indonesia.

Kondisi dilematis mewarnai fenomena ini. Arus masuk modal asing makin dibutuhkan dan langsung memperbaiki NPI serta menambah cadangan devisa pada tahun bersangkutan. Akan tetapi, akan mengkibatkan pembayaran yang lebih besar pada Pendapatan Primer pada waktu berikutnya.

Sebagai suatu negara dengan perekonomian terbuka, transaksi berutang dan kerjasama investasi dengan pihak asing adalah lazim. Kelaziman terutama dilihat dari pertimbangan atas keuntungan yang akan diperoleh pada tahun-tahun berikutnya.

Secara teoritis, keuntungan dari transaksi finansial pada tahun-tahun sebelumnya akan tampak tampak pada kinerja ekspor yang meningkat, serta suplus perdagangan pada umumnya. Wajar jika defisit Neraca Pendapatan terus meningkat, namun dapat diatasi oleh surplus perdagangan barang. Dan dapat ditambahkan dengan dampak perbaikan neraca jasa-jasa, selain pendapatan primer.

Kondisi Transaksi Berjalan yang mengalami defisit selama 8 tahun berturut-turut, dan cenderung makin besar, mengindikasikan keuntungan dimaksud tadi belum terjadi.

Dilema ini tak dapat diatasi hanya dengan kebijakan terkait neraca pembayaran, apalagi bersikeras asal modal asing masuk sebesar-besarnya. Kondisi ketahanan eksternal pun harus dilihat dalam perspektif jangka panjang oleh otoritas ekonomi.



Video pilihan: