About Me

header ads

Maklumat Puisi Kampungan

Puisi Kampungan

MAKLUMAT PUISI KAMPUNGAN

1. Istilah Puisi Kampungan (PK) muncul begitu saja dari pembicaraan Lukni Maulana, Bayu Aji Anwari, Eko Tunas, atas keprihatinan terhadap kehidupan sastra Indonesia (karya, angkatan, gerakan, dan sastrawannya) yang terjebak dalam arus elitisme gaya (estetika, genre, style) yang kebarat-baratan ala ABG (Amerika Baru Gede).

2. Atas dasar pemikiran itu, PK tidak berada dalam logika karya, angkatan, gerakan, tapi lebih sebagai ajakan untuk kembali ke pribadi masing-masing sebagai manusia di tengah lingkungan masyarakatnya. Kemudian menuliskan dengan penuh kejujuran akan pengalamannya, karena pada hakikatnya sastra adalah pengalaman yang ditulis, bukan karangan mengawang yang dibuat/dibikin-bikin/direka-reka/diindah-indahkan/didahsyat-dahsyakan, sehingga yang muncul kepalsuan atau topeng keindahaan semata.

3. PK menyadari bahwa, kebanyakan karya-karya sastra selama ini ada dalam logika gaya, tanpa pengalaman membumi atau riset menjiwa. Sehingga seringkali yang terjadi, satu karya cenderung kedodoran bentuk tapi kosong isi. Lebih dari itu, karya-karya semacam inilah yang banyak dipelihara media massa, demi kepentingan bisnis modern yang tidak bisa dielakkan di dunia media massa atau penerbitan raksasa kapitalis.

4. Sehingga dari kecenderungan itu, sangat aneh tatkala muncul logika bahwa sastrawan adalah mahluk istimewa. Bahkan para kritikus kemudian mentahbiskan bahwa rakyat kebanyakan buta atau tidak tahu seni dan satra. Satu sikap jumawa yang menganggap rakyat miskin luar-dalam, lalu memposisikan diri mereka setara dewa atau nabi dengan karya yang ada di perpustakaan awang-awang.

5. Atas gejala itu, PK pada gilirannya mengajak segenap sastrawan/penyair untuk memulai menulis yang benar, mensyiarkan kehidupan nyata atau mensyairkan pengalaman sejujurnya. Tidak ada lain dengan cara turun ke bumi, menjadi manusia di tengah lingkungan masyarakatnya, dan melepaskan topeng kepalsuan yang selama ini menjadikannya robot demi kepentingan bisnis yang menjerat dan mematikan kemanusiaan.


Catatan: Setelah terucap Puisi Kampungan, kami bertiga ingat sebelum ini ada Kelompok Kampungan, Sastra Kontekstual, Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) dll, yang ada padanan nama atau ranah. Tapi kami menyadari itu sekadar penamaan, dan kami sepakat tetap menggunakan istilah Puisi Kampungan.

Semarang, 1 Februari 2016
Lukni Maulana, Bayu Aji Anwari, Eko Tunas