About Me

header ads

Surat Terbuka Ahli Waris Makam Yang Diurug Pemkot Semarang

Tanpa sepengetahuan ahli waris, makam diurug Pemkot Semarang

Dik, Assalamu alaikum…..

Gimana kabar di surga dik? Semoga tetap sehat ya. Udah ketemu anak-anak belum, maksudku kakak-kakaknya Srengenge. Semoga semua baik dan nggak batuk atau sesak nafas ya.

Begini dik. Lewat surat ini, aku hanya ingin minta maaf. Maaf yang sebenar-benarnya maaf karena sebagai suami tak mampu menjagamu. Baik ketika masih sehat, sakit, atau bahkan sekarang ketika kau sudah meninggal.

Saat sehat dan sakit, aku sudah berkali-kali minta maaf. Tak ada kode atau tanda kalau kau memaafkan aku. Tapi kali ini, aku sungguh berharap kau mau memaafkan aku karena tak mampu menjaga makammu.

Makammu dan tiga anak kita, sebenarnya sudah ramai-ramai patungan kami benahi. Aku menyebut kami karena ada keterlibatan eyangnya Ngenge, Budhenya Ngenge, Om-omnya Ngenge bahkan Ngenge sendiri yang ikut menabung.


Kondisi makam sebelum diurug/Foto: Edhie

Lihat fotonya, nggak buruk-buruk amat kan? Dan karena aku suka tanaman, maka makammu itu kutanami rumput dan juga bebungaan lain. Semoga kau suka dik.


Tak perlu dibahas berapa biaya untuk membangun makam itu, toh kamu juga sebenarnya sudah tak butuh. Tapi bagi kami yang kau tinggalkan, tentu masih sangat membutuhkanmu. Membutuhkan tanda kehadiranmu, meski hanya gundukan tanah dengan kotak marmer yang berisi namamu dan anak-anak kita.

Tapi seminggu belakangan ini, ketika aku berkunjung, betapa kagetnya. Makammu sudah diurug oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Semarang. Dan aku sebagai ahli waris makam itu tak pernah sekalipun diberitahu.

Tanah-tanah padas hasil memotong perbukitan tiba-tiba sudah berada menumpuk di sekitar makammu. Aku tak bisa protes. Yang paling membuatku sedih, ketika truk-truk pengangkut padas itu kemudian melintas, tak peduli ada jenazah-jenazah di bawahnya. Kemudian buldozer mini meratakannya.


Buldozer ketika meratakan tanah urugan tanpa memberi penanda keberadaan makam di bawahnya/Foto: Edhie

Sakitkah yang kau rasakan ketika buldozer itu melintas diatas makammu?

Ah tentu tidak. Ragamu sudah menyatu dengan alam. Aku saja yang tolol menuntut penghormatan dari orang lain atas makammu. Apalagi dari Dinas Perkim yang memang daya serap terhadap APBD kota Semarang sangat rendah. Kalaupun bisa tinggi lebih banyak untuk belanja pegawai. Jadi jangan mengharap penghormatan atas makammu itu dik.

Kesalahan utamaku adalah terlalu mengagungkan penghormatan terhadap hubungan manusia, termasuk yang sudah meninggal. Harusnya aku berlaku dan bertindak seperti mereka yang menjabat. Berpikir untuk kesejahteraan warga, termasuk warga yang sudah meninggal. 

Kalau makammu tak diurug kan bisa banjir, nanti kamu basah ya dik. Maaf atas ketelodranku. Aku lupa kalau negara ini sedang membangun dan sangat ingin maju. Jadi nggak bakalan ada tempat bagi manusia-manusia yang terjebak romantisme seperti aku.

Benar kiranya, hubungan antara yang hidup dan yang mati itu sia-sia. Mengingat dan mengenangmu itu tak ada gunanya. Setidaknya itu yang dicontohkan Dinas Perkim. Jadi biar saja makammu diperlakukan semena-mena. Hilang penanda. 

Apakah ini sebuah kode bahwa aku dan manusia-manusia sejenisku yang masih menjunjung tinggi dan hormat pada orang mati memang harus segera melupakan jiwa melankolia dan bekerja untuk kemajuan negeri sebagaimana para penentu kebijakan di Pemkot Semarang?

Dik, aku mohon maaf karena ketika surat ini kutulis, aku sambil memandangi foto kita berdua, saat kau diatas kursi roda. Sementara Srengenge anak kita bergaya khas milenial. Kulihat senyummu meskipun aku tahu bahwa kau menahan nyeri di dada dan nafas yang sesak. Maaf dik, aku tak bisa melupakanmu. 

Jika negara menghendaki aku melupakanmu, dengan jalan mengurug makammu dan menghilangkan penandanya, aku tak akan mampu. Jika hukuman mati dan cap sebagai pembangkang menanti, aku akan ikhlas.

Dik, kesalahan paling fatal yang aku lakukan adalah statusku yang miskin sehingga harus memakamkanmu di taman pemakaman umum milik Pemerintah Kota Semarang. Andai aku kaya dan punya berhektar tanah seperti pengusaha tanah urug dan bos reklamasi, tentu kau akan kumakamkan di pekarangan sendiri.

Para pejabat dan anggota DPRD Kota Semarang barangkali ada satu dua yang mengenalku, namun mengenalku sebagai jurnalis. Sebagai wartawan. Bukan sebagai manusia yang berjiwa cengeng melihat makam istrinya diobrak-abrik tanpa pemberitahuan.


Pengurugan dan perataan tanah urug membuat semua titik makam hilang karena tanpa penanda/Foto: Edhie

Oh ya dik, aku sebenarnya sudah wadul sama Wali Kota Semarang via WA. Dan ditanggapi baik, minta maaf. Tapi ya hanya gitu tok. Nggak ada penjelasan apapun. Tapi aku sangat memaklumi dan sangat menghargai karena Wali Kota harus memikirkan kemajuan kotanya, bukan memikirkan aku yang meratapi jenazah yang dimakamkan dua tahun lalu itu.

Dik, di penghujung surat ini, selain minta maaf aku mulai putus harapan. Apa yang kubayangkan atas kepemimpinan yang manusiawi tak akan terwujud. Tapi aku juga maklum, karena engkau sudah bukan manusia. Jasadmu sudah menjadi tanah. Sehingga wajar kalau Pemkot Semarang menganggapmu tak berguna, meski diam-diam rajin mengutip uang dari para ahli waris engan dalih kebersihan, penandaan, penataan dan seceret nomenklatur lain yang sudah dianggarkan di APBD.

Dik, maaf kalau aku nggak bisa apa-apa. Nggak bisa melindungi makammu. 
Makasih ya dik, salam buat Gusti Allah, sampaikan pesanku bahwa kalau Gusti memang ngajak guyon, jangan membuatku baper. Aku nggak kuat. Dah ya…… Wassalamu Alaikum.

Suamimu

edhie prayitno ige