--> Konsep Cinta Prespektif Jalaluddin Rumi dan Rabi’ah Al-Adawiyah | Warak Semarang

Konsep Cinta Prespektif Jalaluddin Rumi dan Rabi’ah Al-Adawiyah

Rabi’ah menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba karena didasari oleh perasaan cinta itu sendiri atau karena Dzat yang dicintainya

Cinta Rumi dan Rabi’ah kepada Allah adalah suatu sikap mental

Persamaan cinta Jaluluddin Rumi dan Rabi’ah al-Adawiyah ialah terletak pada objek yang dicintainya, yaitu Tuhan (Allah Swt). Karena sumber dari segala sumber adalah cinta Allah Swt. Allah Swt yang menyebabkan segala cinta yang membawa manusia ke tahap kesempurnaan kepribadian (insan kamil).

Cinta kepada Allah Swt adalah cinta tertinggi yang terletak di tangga paling atas dalam agama dan kehidupan. Karena Allah Swt adalah pencipta segala-galanya, dengan rahmat dan kasih sayangNya maka terciptalah manusia dan makhluk-makhluk lain.

"Rabi’ah Al-Adawiyah menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba karena didasari oleh perasaan cinta itu sendiri atau karena Dzat yang dicintainya"

Cinta Rumi dan Rabi’ah kepada Allah Swt  adalah suatu sikap mental, sikap yang mendorong mereka untuk selalu mengagungkan Allah Swt . Mereka sama-sama ingin mengharapkan ridha Allah Swt . Mereka juga memiliki tujuan yang sama yaitu rindu dan ingin bertemu dengan Allah Swt . Mereka tidak merasa tenang dengan kemewahan duniawi, karena hanya Allahlah yang selalu muncul dalam getar kalbu mereka.

Rumi dan Rabi’ah sama-sama melukiskan cinta kepada Tuhan sebagai kepasrahan total seorang hamba kepada Tuhannya baik lahir maupun batin. Bahkan mereka rela melepaskan kehidupan duniawinya demi mangabdi kepada Yang Tercinta, sampai harus melenyapkan dirinya untuk bersatu dengan Yang Dicintainya.

Dalam sebuah syairnya, Rumi berkata :

Kedekatan dengan Tuhan tidak dapat diramalkan. Berdekat diri
dengan Tuhan bukanlah mendaki atau berjalan turun, melainkan
melepaskan diri dari penjara keberadaan. Khazanah
Tuhan terletak dalam ketiadaan. Engkau tertipu oleh
Keberadaan. Bagaimana mungkin engkau memahami
apa sesungguhnya ketiadaan itu?

Rabi’ah al-Adawiyah juga melukiskan tentang cinta dalam sebuah syairnya :

Tuhanku,
Tenggelamkan diriku ke dalam samudera
Keikhlasan mencintaiMu
Sehingga tidak ada sesuatu yang menyibukkanku
Kecuali berzikir kepadaMu

Baik Rumi maupun Rabi’ah al-Adawiyah sama-sama memandang Tuhan sebagai sumber adanya keindahan. Tuhan adalah keindahan yang lebih tinggi nilainya karena keindahan Tuhan yang telah menciptakan keindahan alam semesta. Dapat dikatakan bahwa bagi mereka berdua alam semesta merupakan pantulan dari “keindahan abadi” Tuhan.

Konsep cinta yang disampaikan Jalaluddin Rumi berbeda dengan konsep cinta yang disampaikan Rabi’ah al-Adawiyah, yaitu dalam tahap pencapaiannya. Rabi’ah menyampaikan konsep cintanya yang murni.

Sedang Rumi mendasarkan cintanya pada proses panjang dengan melihat alam sebagai perwujudan dari cinta itu sendiri. Dalam konsep cintanya yang murni, bahwa Rabi’ah cinta kepada Allah Swt  bukan karena takut pada neraka maupun mengharapkan surga, namun dia mencintai Allah Swt  karena Allah Swt  semata. Hal ini tampak pada pengaduannya kepada Allah:

Ya Allah jika aku menyembahMu, karena takut pada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembahMu karena mengharapkan surga, campakkanlah aku dari dalam surga, tetapi jika aku menyembahMu demi Engkau, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu yang abadi kepadaku”.

Cinta Rabi’ah kepada Allah Swt , semakin lama semakin berkobar dan sedikitpun tidak pernah padam. Cinta inilah yang menjadi satu-satunya pendorong dalam segala perilakunya.

Sedangkan Rumi dalam mendasarkan cintanya pada proses panjang dengan melihat alam sebagai perwujudan cinta adalah bahwa alam merupakan sebuah media untuk mengenal Allah Swt . Karena tanpa alam, akan sulit untuk mengenal Allah Swt . Bagi Rumi, cinta adalah segala-galanya. Alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta. Demikian pula proses alam yang lain.

Melalui cinta dan kasih, alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif, matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, tanaman berbunga, berbuah dan begitu seterusnya, karena cinta adalah lautan yang tak bertepi. Dengan cinta kehidupan ini terus berevolusi secara kreatif menuju kehidupan yang semakin baik dan sempurna.

Selanjutnya Rabi’ah Al-Adawiyah mempunyai konsepsi yang berbeda tentang cinta bila dilihat dari ungkapan-ungkapan cinta melalui syair-syairnya, telah tampak bahwa Rabi’ah secara praktis membagi cinta kedalam dua bagian, yaitu hubb al-hawa dan hubbun liannaka ahlun lidzaka, sebagaimana terlihat dari ungkapan syairnya :

Aku mencintaiMu dengan dua cinta,
cinta karena diriku (hubb al-hawa)
dan cinta karena diriMu (hubb liannaka ahlun lidzaka).
Adapun cinta karena diriku ialah keadaanku yang senantiasa
mengingatMu. Adapun cinta karena diriMu adalah keadaaMu
mengungkap tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun
untuk itu pujian bukanlah bagiku, bagiMulah pujian baik untuk ini
maupun untuk itu”.

Dari syair Rabi’ah di atas, hubb al-hawa (cinta karena diriku) adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat dan kebaikan yang diberikan oleh Allah swt. Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat material seperti makan, minum, pakaian, rumah, dan sebagainya. Maka hubb alhawa ini adalah bersifat inderawi, karena dapat dirasakan oleh panca indera yang dimiliki oleh setiap manusia. Hubb al-hawa yang diajarkan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan tidak berkurang akibat dari bertambah dan berkurnagnya nikmat. Sebab, Rabi’ah tidak memandang dari nikmat itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada dibalik nikmat itu.

Sedangkan hub liannaka ahlun lidzaka (cinta karena diri-Mu) adalah rasa cinta yang pendorongnya adalah Dzat yang dicintanya itu sendiri, bukan dari dorongan kesenangan inderawi. Dalam cintanya yang kedua ini, Rabi’ah menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba karena didasari oleh perasaan cinta itu sendiri atau karena Dzat yang dicintainya. Hub liannaka ahlun lidzaka ini adalah cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan karena ia dapat melihat keindahan Tuhan, setelah Tuhan membukakan tabir untuknya.

Rumi juga membagi cinta (mahabbah) ke dalam dua bagian. Tetapi Rumi berangkat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu Rumi melihat dari penampakan dan penempatan cinta itu sendiri. Dari segi panampakan, cinta tumbuh ketika Tuhan sebagai wujud menampakkan kecantikan-Nya kepada alam, yang pada saat itu masih berupa realitas potensial. Rumi melihat bahwa penampakan inilah yang menjadi sebab ia jatuh cinta kepada Tuhan.

Sedangkan penempatan cinta menurut Rumi adalah bahwa cinta tidak hanya dimiliki oleh manusia atau makhluk hiodup lainnya saja, tetapi juga dimiliki oleh akam semesta, atau disebut dengan “Cinta semesta” (universal love).

Dengan demikian, cinta Ilahi baik menurut Jalaluddin Rumi maupun Rabi’ah al-Adawiyah pada dasarnya dibagi menjadi dua macam, akan tetapi pembagian tersebut didasarkan pada sudut pandang yang berbeda, sehingga pembagian itu pun berimplikasi pada sesuatu yang berbeda pula.
Name

ahok,1,air,1,aktual,72,al ghazali,1,alissa wahid,1,anies baswdan,2,apbn,1,artikel,2,awalil rizky,8,badan usaha milik negara (bumn),1,balai bahasa jawa tengah,1,banjir,3,banjir demak,1,banjir jakarta,1,bank indonesia,1,barisan nusantara,1,basa basuki,1,batik,2,batik semarang 16,2,beta wijaya,2,budaya,4,bullying siswa purworejo,1,bung hatta,1,cengengesan,4,cinta,2,covid-19,3,defisit apbn,1,dprd kota semarang,1,eko tunas,3,ekonomi,4,emisi udara,1,filsafat,1,framing negatif,1,full day school,1,ganjar pranowo,2,gaya hidup,1,germas berkat,1,gp ansor,2,gubernur jawa tengah,1,guru,1,guru swasta,1,gus dur,2,gusdurian peduli,1,gusdurian semarang,1,hari anti korupsi,1,hari guru nasional,1,hari natal,3,hasil survei,1,hersubeno arief,1,himpunan mahasiswa islam,1,hujan malam malam,1,ibnu athaillah,2,indo barometer,1,informasi,4,inspiratif,1,jagongan,9,jalaluddin rumi,2,jawa,1,jokowi,1,kakekane,14,kearifan lokal,1,kebakaran,1,kelurahan meteseh,1,ketahanan pangan,1,kh hasyim asyari,1,khazanah,2,kitab al hikam,2,kolom,8,komunitas kaligawe,1,koperasi,1,korupsi,2,krisis pangan,1,laksamana cheng ho,1,lembaga pemberdayaan masyarakat keluarahan (lpmk),1,lingkungan,3,liputan,37,lpmk banjardowo,1,lukman wibowo,1,lukni an nairi,1,lurah semarang,1,makrifat,3,media sosial,1,melenial,1,menanam cabai,1,mh rahmat,1,mulla sadra,1,muslimat nu,2,muslimat nu kediri,1,nabi nuh,1,nahdlatul ulama,2,nahdliyin,1,neraca pembayaran indonesia (npi),1,new normal,1,ngaji,14,nu kota semarang,1,pangan,1,papua,1,papua barat,1,pembatasan sosial berskala besar (psbb),1,pendidikan,5,penyair,1,pertumbuhan ekonomi,1,pkb kota semarang,3,presiden 2024,1,Profil,1,puan nusantara,1,puisi,7,puisi kampungan,1,puisi menolak korupsi,1,rabi'ah al-adawiyah,1,radikal,1,ranggawarsita,1,rijalul ansor,1,ruangguru,1,saat suharto amjad,1,sampah,1,sastra,7,sastrawan,1,satu dekade haul gus dur,1,satu suro,1,sekolah,1,sekolah inklusif,1,sekolah online,1,selingkuh,1,semar,1,semarang hebat,1,silaturahmi akbar,1,siswi disabilitas,1,suluk,1,suluk linglung,2,sunan kalijaga,3,tadarus budaya,1,tafsir,2,tahun baru,1,tasawuf,4,tatak ujiati,2,togel,1,togel semarang,1,urbanisasi,1,usaha mikro kecil menengah (umkm),1,utang pemerintah,1,virus corona,1,wakaf,1,wakaf produktif,1,wildan sukri niam,2,
ltr
item
Warak Semarang: Konsep Cinta Prespektif Jalaluddin Rumi dan Rabi’ah Al-Adawiyah
Konsep Cinta Prespektif Jalaluddin Rumi dan Rabi’ah Al-Adawiyah
Rabi’ah menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba karena didasari oleh perasaan cinta itu sendiri atau karena Dzat yang dicintainya
https://1.bp.blogspot.com/-xmJU53iqtV4/XfHtLDRoI6I/AAAAAAAAAJE/-uoIVWTLrv83adjji_lugXO8B-BpmjXvQCLcBGAsYHQ/s400/Rabiah%2Bal%2Badawiyah.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-xmJU53iqtV4/XfHtLDRoI6I/AAAAAAAAAJE/-uoIVWTLrv83adjji_lugXO8B-BpmjXvQCLcBGAsYHQ/s72-c/Rabiah%2Bal%2Badawiyah.jpg
Warak Semarang
https://www.waraksemarang.com/2019/12/konsep-cinta-prespektif-jalaluddin-rumi.html
https://www.waraksemarang.com/
https://www.waraksemarang.com/
https://www.waraksemarang.com/2019/12/konsep-cinta-prespektif-jalaluddin-rumi.html
true
9044090663897706969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy