About Me

header ads

Tradisi Lokal Semarang: Persilangan antara Budaya Lokal, Budaya Hybrida dan Budaya Pesisir

Kota Semarang

Oleh: Djawahir Muhammad
(Budayawan Semarang)


SEBAGAI warisan sejarah, tradisi dan budaya lokal Semarang  terbentuk dari interaksi tradisi masyarakat  Semarang dalam persentuhannya dengan budaya Hindu dan Budha,  yang  telah menghuni wilayah ini sekurang-kurangnya pada  abad ke 7 pada masa  kerajaan Syailendra (atau Medangkamulan). Upacara agama Hindu  di Semarang sekarang  berpusat pada sebuah pura yang terdapat di Petompon bernama Pura Girinata, dengan view-parknya yang indah, darimana kita bisa melihat hamparan kota Semarang.

Kebudayaan Hindu  digantikan oleh agama dan kebudayaan Budha yang mencapai masa keemasannya pada abad ke 7 – 9 dengan mahakarya candi Borobudur, Gedongsongo, Kalasan, dsb. Di Semarang, artefak agama Budha antara lain adalah  vihara Tanah Putih,  vihara Watugong dan vihara agung di Tanah Mas dengan puluhan  arca-arca Budha Gautama yang elok. Kedua entitas budaya dan  agama  berkembang dan surut bersama kejayaan dan keruntuhan kerajaan Syailendra dan Majapahit.

Selanjutnya berlangsung era budaya Islam yang diawali dari masuknya agama  Islam di Indonesia pada abad ke 14. Di pulau Jawa, agama Islam berkembang melalui para pedagang dan penyebar agama Islam khususnya di wilayah pantai utara pulau Jawa , mulai dari Banten, Sundakelapa (Jayakarta, Jakarta), Cirebon, dan wilayah pantai utara pula Jawa sampai ke Gresik, Tuban, Lamongan, Surabaya, dan – tentu saja -  melewati Semarang dan Demak.

Di Semarang, perkembangan agama dan budaya Islam  ditandai dengan pengislaman masyarakat Semarang di pulau Tirang oleh Ki Made Pandan dari kerajaan Demak, dilanjutkan dengan terbentuknya pemerintahan tradisional di wilayah ini, yang mencapai momentum puncak dengan pengangkatan Kiageng Pandan Arang sebagai Bupati Semarang pada tahun 1547.

Agama, tradisi dan budaya Islam tumbuh dalam masyarakat lokal di Semarang, dimulai dari pulau Tirang, Bergota, dan wilayah lainnya, menggantikan peranan agama dan budaya Budha (Budiman, 1998; 78).  Tak dapat dipungkiri bahwa  interaksi simbolik  antara  perkembangan agama dan budaya memberikan “bentuk”  berbagai ekspresi budaya, beragam upacara maupun tradisi masyarakat di kota ini. Hal itu dapat dilihat pada periode perkembangan selanjutnya.

Berikutnya datang orang-orang dari negeri Tiongkok, tentu dengan bekal agama (Budha,  Konghucu, Nasrani dan Islam) dengan budayanya yang beragam. Mereka tiba di wilayah ini  melalui lautan, dan mendarat di Simongan pada tahun 1410-an dengan situsnya kelenteng Gedung Batu (atau kelenteng Sam Po Kong) dan kelenteng-kelenteng lainnya. Pada abad selanjutnya, (abad ke 14) datang lagi gelombang kedua  bangsa-bangsa dari Asia Timur (Melayu, Gujarat dan India Belakang) kali ini dengan spirit Islam. Mereka membentuk lingkungan eklusifnya di sekitar kampung Melayu / jalan Mujahir, jalan Layur, dan kampung Petolongan. 
       
Akhirnya tibalah bangsa-bangsa dari benua  Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggeris). Sebagai pendatang, mereka bukan hanya menjadi penyiar agama, tapi juga berdagang dan menyatu dengan penduduk setempat melalui proses civilisasi,  termasuk  melalui penaklukan. (God, Glory and Gospel).

Dalam era penjajahan  yang berlangsung selama 350 tahun, mereka meninggalkan warisan budaya yang sangat komplit pada bangsa ini, antara lain warisan budaya yang merupakan perpaduan berbagai elemen budaya berbeda,  yang oleh Soekiman (2000) disebut sebagai Budaya Indis, atau oleh Canclini disebut sebagai hybrid culture yang kedua-duanya berkembang pada era post-colonial.   Jejak-jejak fisik  peradabannya masih tersisa sampai  sekarang, antara lain   bangunan gedung koeno di Kotalama.

Tetapi, relasi dan interaksi budaya  dalam masyarakat kota Semarang yang sebenar-benarnya,  justru terjadi  antara masyarakat Semarang sebagai sebuah entitas masyarakat pesisir, dengan entitas masyarakat Jawa lainnya yakni masyarakat (Jawa) pedalaman yang berpusat di induk kebudayaan Jawa yakni Surakarta dan Yogyakarta.

Pergumulan budaya masyarakat Semarang yang berbudaya  pesisir (yang didasarkan pada ajaran Islam), dengan masyarakat Jawa di pedalaman yang kuat  unsur-Kejawen-nya, telah menghasilkan entitas budaya / masyarakat  yang oleh Geertz (1982) diklasifikasikan dalam kelompok  “abangan”, atau oleh Simuh, digolongkan sebagai penganut sinkretisme.


Namun sekiranya memang demikian, hal itu pasti tidak berlaku secara keseluruhan. Banyak data dapat disampaikan bahwa di Semarang terdapat komunitas santri dan kaum priyayi, (sekurang-kurangnya dalam komunitas pesantren Kiai Terboyo,  Kiai Saleh Darat, Kiai Sepaton, masyarakat kampung Kauman, kampung Petolongan, dsb.