--> 5 Pendapat Persinggahan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang | Warak Semarang

5 Pendapat Persinggahan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang

Mengenai kapan tepatnya Laksamana Cheng Ho singgah di Semarang, ada beberapa pendapat yang mengemuka

Laksamana Cheng Ho

MENURUT tradisi cerita lisan sebagian masyarakat Cina di Semarang, jalur kedatangan armada Cheng Ho ketika menuju ke Semarang, yaitu lebih dahulu singgah di pelabuhan Mangkang. Setelah itu bersandar di pelabuhan Simongan Gedung Batu, karena salah satu awak kapal Cheng Ho, yaitu jurumudinya yang bernama Wang Jinghong (Ong King Hong) mendadak sakit keras.

Di sekitar pelabuhan inilah, awak kapal Laksamana Cheng Ho membangun Kelenteng Sam Po Kong (yang akan penulis bahas di bagian lain pada bab ini). Di kawasan pelabuhan tersebut telah banyak orang-orang Tionghoa yang bermukim. Seperti yang dikatakan oleh pustakawan Belanda yang menulis buku “Oud Semarang”, J.R. van Berkum. Orang-orang Tionghoa telah bermukim disana (sekitar Gedung Batu) sebelum tahun 1000 M.

Kemudian, sekalipun di Kelenteng Sam Po Kong yang terletak di Gedung Batu, terdapat sebuah inskripsi yang tertulis dalam tiga bahasa Inggris, Tionghoa, dan, Indonesia—yang khusus dibuat oleh Liem Djing Tie pada tahun 1960 untuk memperingati kedatangan Cheng Ho di Semarang. Selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

Keramat Sutji Sam Poo
“Goa tempat berziarah ini dan Kelenteng bernama Gedong Batu didirikan untuk memperingati djasa-djasa Sam Poo Tay Djien. Beliau adalah utusan dari Tiongkok pada permulaan zaman Keradjaan Ming (Tahun 1368 – 1643) berasal dari Yunnan dan wafat pada tahun 1435. sebagai utusan beliau mengundjungi berbagai-bagai negeri, antara lain Djawa, Sumatra, Melaka, Siam, Benggala, Ceylon, Arabia, untuk mengadakan perhubungan perdagangan dan persahabatan dengan negeri-negeri itu serta mempererat lagi persahabatanlagi persahabatan jang sedari 1000 tahun telah ada.

(Perdjalanan Fa Shien antara tahun 400) untuk menghormati dan mengakui djasa-djasa beliau jang luhur itu, banjak negeri mengirimkan utusan-utusan ke Tiongkok. Beliau mengundjungi tanah Djawa dua kali di tahun 1406 dan 1416. di tahun 1416 beliau mendarat di Simongan jang pada waktu itu masih terletak di pantai laut. Penduduk kota Semarang berpendapat bahwa utusan Sam Poo Tay Djien ada suatu peristiwa kebangsaan. Maka untuk kehormatannya didirikan Kelenteng ini”.

Yang harus kita cermati adalah tahun yang tertera dalam inskripsi tersebut, yang menunjukkan tahun 1416 M. Hal ini bukan berarti tahun 1416, sebagai tahun kedatangan Cheng Ho ke Semarang.

Mengenai kapan tepatnya Laksamana Cheng Ho singgah di Semarang, ada beberapa pendapat yang mengemuka, yaitu :

Pertama, tahun 1406 sebagai tahun kedatangan Cheng Ho di Semarang, tepatnya dalam pelayarannya yang pertama (1405-1407). Sarjana Tiongkok, Li Changfu menuliskan pada tahun1936. Armada Cheng Ho berangkat dari Sungai Liujia Kabupaten Suzhou Propinsi Jiangshu menuju Fujian terus berlayar ke selatan. Setelah singgah di Campa, armadanya sampai di Jawa. Kala itu armada Cheng Ho mungkin mendarat di Semarang.

Sepaham dengan pendapat tersebut adalah apa yang ditulis oleh Wu Shehuang dalam bukunya Sejarah Indonesia (terbitan Jakarta tahun 1951) dan para sarjana Indonesia seperti Hartono Kasmadi, dan Wiyono pun menuliskan, tokoh Sam Po tidak lain adalah Laksamana Cheng Ho utusan dari Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming. Untuk mengadakan pelayaran ke daerah-daerah di Laut Selatan dari tahun 1405 sampai 1433. Dan mungkin telah mengunjungi Semarang pada tahun 1406.

Kedua, Cheng Ho mendarat di Semarang pada pelayaran yang kedua, yaitu tahun 1407-1409. Liu Ruzhong menulis, pada pelayaran yang keduanya. Inskripsi tersebut pada kesekian kali kunjungannya (terakhir tanggal 17 Februari 2005), hanya saja karena kelenteng sedang direvitalisasi yang nantinya inskripsi tersebut—akan diletakkan dibangunan utama didepan goa yang asli.

Cheng Ho mendarat di Semarang, dikarenakan terjadi bentrokan antara wadyabala Cheng Ho dengan Raja Barat di Jawa.

Ketiga, Cheng Ho mendarat di Semarang pada tahun1412. Sebagaimana yang dituliskan oleh Liem Ek Chiang dalam artikelnya, Cheng Ho telah mengunjungi tanah Jawa sebanyak dua kali. Yaitu pada tahun 1406 dan 1412, tepatnya mendarat di Mangkang di dekat Kendal. Senada dengan pendapat Ek Chiang adalah Nio Joe Lan.

Keempat, tahun 1413 sebagai tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Semarang, sebagaimana dinyatakan oleh Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buah karyanya Tuanku Rao. Antara lain : “Pada tahun 1413 ketika armada Cheng Ho berlabuh di Semarang, Cheng Ho dan dua pengikutnya Ma Huan dan Fei Xin bersama-sama bersembahyang di suatu masjid setempat”.

Kelima, adalah pada tahun 1416 (sebagaimana penulis ungkapkan terlebih dahulu diatas).
Keenam, pendaratan Cheng Ho di Semarang adalah antara tahun 1431-1433, berarti pada pelayaran yang ketujuh. Sebagaimana yang tertulis dalam arsip Kongkoan Semarang, yang penulis kutip dari Liem Thian Joe, disebutkan :

“Doeloe, di masa baginda Soan Tik bertachta, ada satu thaykam jang bernama Ong Sam Poo, jalah jang sekarang disebut Sam Po Kong; ia dapet titah boeat tjari itoe moestika, maka bersama The Hoo an lain-lain lagi laloe berlajar ke sebelah Oetara. Ia lebih doeloe mendarat di Djambi, laoe toeroen di Bantam, kemoedian datang di Semarang”.

Soan Tik adalah Xuan De menurut bahasa nasional Mandarin, demikian juga The Hoo adalah Cheng Ho. Menurut catatan sejarah, Kaisar Xuan De naik tahta sejak tahun 1426 sampai tahun 1436. Apabila Cheng Ho mendapatkan perintah berlayar dari kaisar Xuan De untuk berlayar jauh ke sebelah selatan, sudah tentu pelayarannya yang ketujuh yang berangkat pada tahun 1431. Karena, pelayaran Cheng Ho yang keenam terjadi pada tahun 1421-1422, dan pada waktu itu Xuan De belum naik tahta.

Menurut Qian Wen Ji (catatan Berita Mula-mula) yang ditulis oleh Zhu Yinming pada masa Dinasti Ming berkuasa, pada tanggal 19 Januari 1431 Imlek, armada Cheng Ho meninggalkan pelabuhan Long Wan Nanjing (Nanking) dan sampai di Campa pada 27 Januari 1432 Imlek. Kemudian meneruskan perjalanan pada 12 Februari dan tiba di Surabaya pada 7 Maret setelah mengarungi lautan selama 25 hari.

Pada tanggal 13 Juli dari Surabaya mereka bertolak menuju Palembang. Tiba disana pada 24 Juli sesudah 11 hari berlayar.52 Ternyata dalam jadwal pelayaran diatas tidak tercatat pendaratan Cheng Ho di Semarang dalam pelayaran yang ketujuh.

Perlu diketahui dari keenam pendapat yang penulis sebutkan diatas, sebagaimana yang penulis kutip dari Khong Yuan Zhi (2000) ternyata tidak disertai argumen-arguman sejarah yang cukup meyakinkan. Terbukti adanya kata-kata “mungkin” dari hasil penelitian-penelitian diatas. Sekalipun demikian bukan berarti bahwa kedatangan Cheng Ho di Semarang adalah a history. Disebabkan tidak mudah untuk mendeteksi kapan tepatnya persinggahan Laksamana Cheng Ho di Semarang.

Hanya saja, rasanya bukan suatu kebetulan kemasyhuran Sam Po Kong di Semarang yang setiap tanggal 30 Juni Imlek diadakan perayaan secara besar-besaran. Bisa jadi, hal ini menurut perkiraan penulis, merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan oleh adanya Inpres No. 14 tahun 1967 pada masa pemerintahan Soeharto (karena pada waktu itu “kegiatan manipulasi” sejarah adalah hal yang “wajar”, terlebih kepada etnis Cina).

Menurut Prof. Zhu Jieqin, cerita-cerita tempo dulu sering kali tidak dapat dipisahkan dengan fakta-fakta sejarah secara mutlak. Oleh karena itu, segala cerita mengenai kedatangan Cheng Ho di Semarang akan membantu para sejarawan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Tidak adanya catatan mengenai kedatangan Cheng Ho di Semarang dalam karya-karya Ma Huan, Fei Xin, dan Ghong Zheng, bukan berarti sang Bahariwan Agung itu tidak pernah ke Semarang.

Mungkin saja, pendaratan Cheng Ho di Semarang mereka anggap sebagai suatu peristiwa yang relatif kecil bila dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain. Apalagi ketiganya tidak ikut secara penuh. Ma Huan hanya ikut dalam pelayaran yang ke-4, 6, dan 7. Kemudian Fei Xin ikut dalam ekspedisi yang ke-3 dan 7, sedangkan Ghong Zheng hanya ikut pada pelayaran yang ke-7. Jika memang persinggahan Cheng Ho ke Semarang benar-benar terjadi pada tahun 1406, ketiga orang tersebut memang tidak ikut serta pada pelayaran pertama Laksamana Cheng Ho. Jadi wajar, peristiwa tersebut tidak dicantumkan dalam tulisan mereka.

Terlepas dari perdebatan-perdebatan mengenai tahun kedatangan Cheng Ho di Semarang. Yang jelas, riwayat Semarang selalu dikaitkan orang dengan cerita kedatangan Cheng Ho di kota Atlas ini. Berdasarkan atas apa yang penulis baca dalam catatan Liem Thian Joe (1933), etnis Tionghoa bersama orang-orang pribumi bahu-membahu membangun kota Semarang sejak beberapa abad yang lalu.

Sehingga perselisihan pendapat mengenai tahun kedatangan Admiral Cheng Ho di kota Semarang, tidak akan mengurangi rasa hormat orang kepada Cheng Ho. Bahariwan agung yang amat berjasa dalam memajukan persahabatan antara bangsa Cina dengan Indonesia, lewat apa yang disebut dengan Sino Javanese Muslim Culture maupun Sino Javanese Sub Culture.

Sumber bacaan:
1. Sewaktu rombongan Cheng Ho datang tempat tersebut belum punya nama, kemudian dinamakan Mangkang seperti sekarang ini yang berasal dari perkataan Tionghoa, wangkang yang artinya kapal. Karena ditempat tersebut banyak sekali berlabuh kapal-kapal nelayan setempat. Perubahan huruf m dari w diawal kata merupakan kebiasaan orang-orang jaman dulu untuk menggampangkan omongan. Bahkan Prof. Dr. Muhammad Husayn M.A dalam desertasinya “Java as noticed by ARAB Geographers” memperkirakan komunitas Tionghoa telah ada sekitar tahun 921 M. Lihat Amen Budiman, Semarang Riwayatmu dan Jongkie Tio

2. Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu dan Khong Yuan Zhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho

3.  Li Changfu, Sejarah Penjajahan Tiongkok, Penerbit Shang Wu, Taiwan, 1983, hlm. 110

4. Hartono Kasmadi & Wiyono, Sejarah Sosial Kota Semarang (1900-1950), Dep Dik Bud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1985, hlm.77
49 Kong Yuan Zhi, op. cit., hlm. 72 Lihat juga Mangaraja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao, Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964, hlm. 653

5. Menurut Penulis, kata “oetara” itu salah tulis, yang benar adalah ke sebelah “selatan”, mengingat samudera Hindia berada disebelah selatan Cina. Lihat Khong Yuan Zhi, Muslim Tionghoa.
Name

ahok,1,air,1,aktual,72,al ghazali,1,alissa wahid,1,anies baswdan,2,apbn,1,artikel,2,awalil rizky,8,badan usaha milik negara (bumn),1,balai bahasa jawa tengah,1,banjir,3,banjir demak,1,banjir jakarta,1,bank indonesia,1,barisan nusantara,1,basa basuki,1,batik,2,batik semarang 16,2,beta wijaya,2,budaya,4,bullying siswa purworejo,1,bung hatta,1,cengengesan,4,cinta,2,covid-19,3,defisit apbn,1,dprd kota semarang,1,eko tunas,3,ekonomi,4,emisi udara,1,filsafat,1,framing negatif,1,full day school,1,ganjar pranowo,2,gaya hidup,1,germas berkat,1,gp ansor,2,gubernur jawa tengah,1,guru,1,guru swasta,1,gus dur,2,gusdurian peduli,1,gusdurian semarang,1,hari anti korupsi,1,hari guru nasional,1,hari natal,3,hasil survei,1,hersubeno arief,1,himpunan mahasiswa islam,1,hujan malam malam,1,ibnu athaillah,2,indo barometer,1,informasi,4,inspiratif,1,jagongan,9,jalaluddin rumi,2,jawa,1,jokowi,1,kakekane,14,kearifan lokal,1,kebakaran,1,kelurahan meteseh,1,ketahanan pangan,1,kh hasyim asyari,1,khazanah,2,kitab al hikam,2,kolom,8,komunitas kaligawe,1,koperasi,1,korupsi,2,krisis pangan,1,laksamana cheng ho,1,lembaga pemberdayaan masyarakat keluarahan (lpmk),1,lingkungan,3,liputan,37,lpmk banjardowo,1,lukman wibowo,1,lukni an nairi,1,lurah semarang,1,makrifat,3,media sosial,1,melenial,1,menanam cabai,1,mh rahmat,1,mulla sadra,1,muslimat nu,2,muslimat nu kediri,1,nabi nuh,1,nahdlatul ulama,2,nahdliyin,1,neraca pembayaran indonesia (npi),1,new normal,1,ngaji,14,nu kota semarang,1,pangan,1,papua,1,papua barat,1,pembatasan sosial berskala besar (psbb),1,pendidikan,5,penyair,1,pertumbuhan ekonomi,1,pkb kota semarang,3,presiden 2024,1,Profil,1,puan nusantara,1,puisi,7,puisi kampungan,1,puisi menolak korupsi,1,rabi'ah al-adawiyah,1,radikal,1,ranggawarsita,1,rijalul ansor,1,ruangguru,1,saat suharto amjad,1,sampah,1,sastra,7,sastrawan,1,satu dekade haul gus dur,1,satu suro,1,sekolah,1,sekolah inklusif,1,sekolah online,1,selingkuh,1,semar,1,semarang hebat,1,silaturahmi akbar,1,siswi disabilitas,1,suluk,1,suluk linglung,2,sunan kalijaga,3,tadarus budaya,1,tafsir,2,tahun baru,1,tasawuf,4,tatak ujiati,2,togel,1,togel semarang,1,urbanisasi,1,usaha mikro kecil menengah (umkm),1,utang pemerintah,1,virus corona,1,wakaf,1,wakaf produktif,1,wildan sukri niam,2,
ltr
item
Warak Semarang: 5 Pendapat Persinggahan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang
5 Pendapat Persinggahan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang
Mengenai kapan tepatnya Laksamana Cheng Ho singgah di Semarang, ada beberapa pendapat yang mengemuka
https://4.bp.blogspot.com/-PLBAp5cJIDE/UvSRl15WPRI/AAAAAAAABPg/35_iy5xP3us/s400/ceng.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-PLBAp5cJIDE/UvSRl15WPRI/AAAAAAAABPg/35_iy5xP3us/s72-c/ceng.jpg
Warak Semarang
https://www.waraksemarang.com/2019/11/persinggahan-cheng-ho.html
https://www.waraksemarang.com/
https://www.waraksemarang.com/
https://www.waraksemarang.com/2019/11/persinggahan-cheng-ho.html
true
9044090663897706969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy