About Me

header ads

Penyair Semarang Anggoro Suprapto Meninggal Dunia, Inilah Sosok Semar dan Puisi Terakhirnya

Ini adalah foto ungguhan Anggoro Suprapto terakhir di akun Facebooknya.
Wajah beliau yang tersenyum dan wayang gunungan dengan gambar Semar.


Waraksemarang.com - Kota Semarang kembali kehilangan penyair dan wartawan senior Anggoro Suprapto. Di Rumah Sakit Kariadi Semarang pada pukul 03.00 Wib Anggoro Suprapto menghembuskan nafas terkahirnya.

Jenazah Anggoro Suprapto disemayamkan di Rumah duka Tiong Hwa Ie Wan Puri Anjasmo (sebelah STIKES Telogorejo depan arteri arah Marina) pada pukul 12.00 Wib. Selepas dari rumah duka Tiong Hwa Ie Wan pada pukul 13.00 Wib jenazah Anggoro Suprapto dikebumikan di pemakaman Salaman Mloyo Pamularsih Kota Semarang, Jumat (29/11/2019)

Anggoro Suprapto dikenal sosok yang ramah dan memiliki kepedulian terhadap gerakan sosial. Hal ini ia wujudkan dan ikut terlibat dalam gerakan moral Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang dikoordinatori oleh Leak Sosiawan. Bahkan Anggoro Suprapto sempat membuatkan Website yang dikelola Lukni Maulana sebagai media sosialisasi dan informasi tentang gerakan PMK.

Ternyata Anggoro Suprapto sempat menuliskan status di akun Facebooknya, status yang ia gemari yakni puisi. Bahkan ia menungguh dua foto, foto dirinya yang tersenyum dan gambar gunungan dengan gambar sosok Semar. Berikut ini puisi Anggoro Suprapto.

JALAN MENUJU TUA

tengah malam aku suka bermeditasi
lalu kutanya pada waktu yang menyepi
aku sedang menuju jalan menjadi tua ya?
kutersenyum, saat kau mengangguk pasti
di langit muram bulan tertutup awan
malam semakin gelisah
dalam gigil yang resah

kau memang benar istriku
menuju tua tak begitu menakutkan
bagiku pun tetap menenteramkan
selama tua adalah gagah dan sehat
selama tua adalah cerdas dan awas
seperti bagawan manuyasa yang waskita
setiap hari berkidung membaca mantera
terus bersyukur tak henti-hentinya

maka tatkala
jalan menjadi tua tiba, kuputuskan
ingin tetap tinggal saja di rumahmu, istriku
setiap hari bisa memandang
beningnya netramu
teduhnya wajahmu
gelak tawa anak-anak menggelegak
senda gurau yang menyeruak

ah, sesungguhnyalah
menjadi tua adalah anugerah
dari sang maha pemurah

semarang, september 2018